Pengakuan SeorangIsteri — Bagian Terakhir.

Prof. Dr. Djafar Siddik

Sibolangit-Waterfall_North_SumateraKusambut uluran tangannya. Kuterima ucapan belasungkawanya. Kuperkenalkan kepada kedua anak kambarku bahwa tamu istemewa ini adalah dosenku yang cerdas. kuceritakan kebaikan hatinya yang selalu memberikan nilai-nilai istimewa untukku. Setelah mereka bersalaman, kedua anakku seperti biasanya segera pamit menarik diri, pergi bermain atau ke kamarnya masing-masing.  Baca lebih lanjut

Iklan

Pengakuan seorang Isteri — Bagian 8

Oleh : Prof. Dr. Djafar Siddik

downloadSungguh aku tak menemukan jalan keluar bagaimana nanti aku dapat membesarkan dan membiayai pendidikan yang layak untuk kedua anak kembarku, Bilqis dan Lukman, sesuai cita-cita almarhum suamiku. Dalam suasana yang serba bingung, kedua anak kembarku sudah duduk di hadapanku. Putriku menatap mataku dan dengan suara perlahan berkata, “Ibu merindukan ayah ya bu… kami juga merindukannya ….!

Kurangkul mereka; dan tak kujawab pertanyaannya. Oleh karena tak kujawab pertanyaannya; dia bertanya lagi, “Sejak pacaran, ibu sudah mencintai ayah…?” Aduh! pertanyaan itu sangat menyakitkan, karena sejak menikah pun aku tak pernah mencintai ayah mereka. Inilah yang membuat hatiku bagaikan diiris sembilu.
“Ibu dan ayahmu tak pernah pacaran nak ….! Hanya itu yang bisa kujawab.
“Horee…! Kan sudah disebutkan Ibu guru kita di kelas, dalam Islam tak boleh pacaran…!” sambut putraku.

Untuk mengalihkan percakapan perihal cintaku terhadap ayah mereka, kusambut saja kegembiraan putraku.  “Ibu gurumu betul Lukman…!. Dalam Islam tak ada istilah pacaran seperti sekarang ini. Pacaran masa lalu sudah berbeda dengan pacaran sekarang ini…!” tambahku.  “Apa bedanya bu….” Tanya putriku “Dulu …. Cerita oppungmu. Istilah pacaran itu berasal dari orang-orang pesisir. Pacaran itu artinya memakai pacar atau daun inai di kuku dan telapak tangan seorang gadis yang sudah menerima pinangan. sehingga kuku dan telapak tangannya berwarna merah yang tak mudah hilang meskipun dibawa mandi….!” “Ooo … sebagai tanda sudah tunangan ya bu…!, sambut putriku. Aku mengangguk, kemudian kulanjutkan penjelasanku,
“Di dalam ajaran Islam, seorang yang sudah dipinang, tidak boleh menerima pinangan lagi. Tak peduli siapa pun yang akan meminangnya, apakah ustaz, guru, orang yang kaya raya, atau pejabat.. Kecuali jika lelaki yang meminangnya memberi izin.
Bila gadis itu sudah memakai pacar, orang-orang akan mengetahuinya sudah dalam pinangan. Inilah yang disebut sudah atau sedang pacaran, dan tak seorang lelaki pun yang berani mendekat. “Seperti rambu-rambu lalu lintas ya bu, misalnya “dilarang parkir…!”. Sambut putraku sambil tertawa terkekeh. “Betul …. semacam rambu-rambu…! Kamu pintar Lukman…!” kataku sambil tersenyum. “Jelas pintarlah bu …. Ranking satuu…!” sambutnya sambil mengacung tangan. “Weleh welehh…. Air laut asin sendiri….!” Putriku, Bilqis, mencibir, mendengar ucapan Lukman.

“Ado koq air laut yang rasanya tawar, tidak asin … !” kata Lukman menangkis ucapan Bilqis. “Mana ada …. Jawab Bilqis “Semua air laut pasti asin ….!” Kata putri lagi tak kalah tegas. “Nah ini dia bu …. jika malas membaca… kerjanya tidur melalu…! ayah sudah membelikan buku untuk kami … tapi kalau tak dibaca ya percuma. Katanya sambil berdiri dan melangkah menuju perpustakaan, kemudian berkata,
“Baca ini ….! Ini ada penjelasan bahwa di Terusan Suez ada dua pertemuan arus, yang satu terasa asin, yang satu lagi tawar. Apalagi pada bagian yang terdalam. Penelitian secara ilmiah tentang pertemuan dua arus ini baru pada abad ke 14 yang menyebabkan terjadinya rasa yang berbeda pada pertemuan dua arus itu/ Alquran sudah lebih dulu mengenukakannya dalam beberapa ayat, sambil membacakan arti surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat al-Furqan ayat 53.
Ada kan? Siapa bilang air laut asin semua…!, Katanya, sambil menutup buku itu.

Sehabis Lukman membaca buku itu dengan semangat yang berapi-api. Pikiranku menerawang jauh ke depan. Aku terfikir, sekiranya aku menikah lagi meskipun atas persetujuan anak kembarku, mungkinkah mereka bisa leluasa mengelilingiku seperti sekarang ini?

 Belum sempat aku menarik nafas kebimbanganku, tiba-tiba di luar terdengar orang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Aku terkejut. Seorang lelaki, yang tak lain dosen statistikku yang dulu, datang dengan seulas senyum. Dia melangkah mendekatiku sambil mengulurkan tangan bagaikan sedang meminta sesuatu.

***Bersambung***

Bagian terakhir :

https://indratj.wordpress.com/2016/08/10/pengakuan-seorangisteri-bagian-terakhir/

Pengakuan Seorang Isteri — Bagian ke 7

Kucupan-Terakhir-Buat-Jenazah-1000x666

Saat jenazahnya dibawa ke rumah. Aku duduk bersimpuh di hadapannya. Mataku hampir-hampir tak pernah lepas menatap wajahnya. Sekali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Airmata tak ingin berhenti mengucur, mengaburkan pandanganku. Aku merasa kesal, karena airmata selalu menghalangi tatapan terakhirku padanya. Peringatan dari imam sholat jenazah yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat rencana manisku yang ingin membuat kejutan yang serba sarprais pada hari pertamanya pulang ke rumah karena bebas dari tuduhan pembunuhan dan pemerkosaan, hanya tinggal angan-anganku. Takdir lain menggantikannya. Benar sekali pernyataan Umar bin Khattab ra, “Suatu takdir bergerak dari satu takdir ke taqdir yang lain”. Baca lebih lanjut

Pengakuan Seorang Isteri — Bagian 6

Oleh: Prof. Dr. Djafar Siddik

 

anakkuSesaat akan kutinggalkan ruangan itu dengan rasa kecewa, mataku tertumbuk pada album-album ukuran postcard. Alhamdulillah salah satu di antaranya berisikan photo-photo ulang tahun itu. Tidak ingin membuang waktu, aku berlari ke jalan memanggil taksi. Jalanan sedikit macet, Anak-Anak baru keluar dari sekolah. Dari jauh kulihat putriku sedang menunggu bis kota. Kuminta taksi berhenti. Kulambaikan tanganku kepadanya untuk mendekat.

Kuulurkan tanganku sambil berkata, “Baik-baik di rumah ya… Insyaallah ibu sudah pulang sebelum maghrib. Ada keperluan ke rumah teman…!” Disambutnya uluran tanganku dan menciumnya dengan ta’dzim sebagaimana biasanya.  “Lho bu…!” katanya tiba-tiba. “Ibu koq nggak berjilbab….!” Katanya setengah heran memandang ke arah kepalaku.  Astaghfirullah … aku sangat terburu-buru sehingga luput mengenakan jilbab. “Pinjami ibu jilbabmu..!” kataku, sambil menarik jilbab madrasah yang dikenakannya. Putriku kebingungan, jilbab madrasahnya kini pindah ke kepalaku. Aku tak peduli, taksi kuminta bergerak lagi. Baca lebih lanjut

Pengakuan Seorang Isteri — Bagian 5

“Oleh: Prof. Dr. DJafar Siddik”

dhshtDengan saksama pengacara itu mendengarkan penjelasanku. Pada hari sabtu tanggal 28 Februari 2004 tersebut, sangat tidak mungkin suamiku menjadi seorang pembunuh seperti yang dituduhkan. Sebelum maghrib pun Mas Muji sudah ada di rumah untuk merayakan ulang tahun anak kembar kami, Baru pukul 10 pagi hari minggu esok harinya, tanggal 29 Feberuari keluar rumah membawa anak-anak berenang. “Itu bohong besar dan fitnah…!” Kataku berkali-kali. “Terima kasih bu…!” Kata pengacara itu. “Alibi ini akan sangat membantu melepaskan suami ibu dari tuduhan pembunuhan…!” Baca lebih lanjut

Pembunuhan Supriadi, berawal dari sakit hati, katanya..

Presentation1

Aek Kanopan. Dua warga Dusun Kelapa Raja, Desa Sei Sentang, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Edi (27) dan Kamel (25), tersangka perampok dan pembunuh Supriadi (22), warga Dusun Pantai Belanak, Desa Sei Sentang, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labura berhasil diringkus, Selasa (2/8) sekitar pukul 01.00 WIB.
Kedua tersangka diringkus petugas gabungan dari Polres Labuhanbatu dan Polsek Kualuh Hilir ketika sedang tidur di rumah masing-masing. Sebelumnya, keduanya terdeteksi dari global positioning system (GPS) telepon seluler milik korban yang mereka ambil.

“Tersangka Kamel dan Edi ditangkap di kediamannya. Juga kita amankan seorang warga yang diduga turut serta. Petugas masih mengejar Rempong, tersangka lainnya,” ujar Kapolsek Kualuh Hulu AKP Jonny Tampubolon.

Sebelumnya, mayat Supriadi ditemukan dalam kondisi sudah membusuk di Dusun Pantai Belanak, Desa Sei Sentang, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labura, Selasa (26/7) sekitar pukul 08.30 WIB. Korban diduga dirampok dan dibunuh saat mengendarai sepeda motor Yamaha RX King BK 4130 YP. (ck 06)

Baca lebih lanjut

Pengakuan Seorang Isteri — Bagian 4

“Oleh: Prof. Dr. DJafar Siddik”

Aku haru1200-palestinian-prisoners-start-hunger-strike_0s kuat. Tangisan takkan mengubah keadaan. Setelah berwudhu`, aku naik taksi menuju Polres Bantul. Alhamdulillah aku diizinkan bertemu dengan Mas Muji di ruangan yang berjeruji. “Mas sehatkan?” Hanya itu kata yang bisa kuucapkan ketika pertama kali bertemu. Padahal dalam perjalanan, ada sejumlah kata, konsep dan pertanyaan yang akan kusampaikan kepadanya. Tapi semua lenyap begitu saja karena ada gumpalan air mata yang tak boleh tumpah di hadapannya. Baca lebih lanjut

Pengakuan Seorang Isteri — Bagian 2

Oleh Prof. Dr. Djafar Siddik Siregar

muslim-couple1-55a630296c7e61480772e06c

Waktu berlalu begitu cepatnya. Kedua anakku sudah duduk di kelas satu Madrasah Tsanawiyah Negeri. Menurut suamiku, sejelek-jeleknya pengajaran di MTs, adalah lebih baik daripada belajar di SMP. Di MTs anak-anak lebih mengenal agama. Pakaiannya sopan dan menutup aurat. Aku setuju itu, meskipun tak pernah kuperlihatkan persetujuanku. Kubiarkan semua mengalir, bersama rasa benci yang membuncah di hatiku. Baca lebih lanjut

Pengakuan Seorang Isteri — Kucuri Photo Dosenku yang Sedang Memandang Monas dengan Tangan Terkepal. Bagian Pertama.

Oleh Prof. Dr. Djafar Siddik Siregar

(Bung Djas)

Bung Djas adalah orang yang sederhana namun tetap bersahaja, ia sangat berbeda dengan Guru-guruku yang lain, walaupun ia tak pernah masuk kelokalku namun ilmu yang kudapatkan darinya bukan main-main. Ia punya kebiasaan kalau minum kopi pahit ditemani pisang goreng, sambil berbagi cerita dan pengalaman apa saja kepada kami. selamat menikmati…

Kukirim pengakuanPresentation1ku ini kepada sahabat ayahku, dengan harapan berkenan mempostingnya. agar penyesalanku ini tidak menjadi beruntun bagi para sahabat yang berkenan membacanya.

Namaku Anjani Pasaribu. Dosen bahasa Inggris selalu menyebut namaku “Anjani a thousand market” [Anjani Pasar Seribu]. Aku tidak bisa menyelesaikan kuliah. Ayahku tak mampu lagi membayar SPP. Aku terlahir dari keluarga Muslim yang taat. Ibuku berjualan pecal yang sering kubantu di depan rumah. Aku dan ibuku sama-sama menggunakan jilbab lebar. Aku tak pernah pacaran. Tapi diam-diam mencintai seorang dosen honor di Universitas tempatku kuliah dulu. Tingginya semampai, berkulit sawo matang, berambut ikal dan tangkas menuliskan rumus-rumus statistik di papan tulis tanpa melihat buku teks. Perkalian demi perkalian meluncur dari mulutnya tanpa harus menggunakan kalkulator —– Amboi cerdasnya. Baca lebih lanjut